Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Lebih baik trading menggunakan indikator atau tanpa indikator?


Ini adalah salah satu kontroversi abadi antar trader.

Indikator yang saya maksud adalah indikator statistik seperti moving average, stochastic, bolinger band, dan sebagainya.

Alih-alih memanfaatkan, mereka malah cenderung memperdebatkan.

Hanya sedikit trader yang bisa keluar dari lingkaran setan ini.

Kita bisa melihatnya di forum-forum trading, terutama yang gratisan, tentang perdebatan ini sepanjang waktu.

Mereka yang menganalisa tanpa indikator (naked chart), menganggap indikator itu tidak berguna dan cenderung menganggap pengguna indikator itu kurang expert.

Dengan kata lain, mereka yang menganalisa tanpa indikator itu benar-benar expert.

Awalnya saya juga berpikir demikian. 

Sampai pada desember 2018, ketika saya mengikuti coaching Trading Tenang Senang yang dibimbing langsung oleh master trader indonesia Novry Simanjuntak, pola pikir saya berubah.

Indikator adalah alat bantu.

Misalnya saat bencana alam tsunami, kita akan melihat tanda-tanda seperti gempa bumi suara dentuman, hewan-hewan seperti burung yang memperlihatkan tingkah laku yang tidak biasa, bau garam di sekitar pantai, air laut surut, dan seterusnya hingga akhirnya terjadi gelombang pasang yang menyapu daratan.

Ini adalah metode analisa tanpa indikator statistik.

Disisi lain, ada metode lain, seperti yang digunakan oleh BMKG.

Ketika terjadi gempa, mereka akan mendeteksi melalui seismograf, lalu mengklasifikasikan jenis gempa, dan apakah ukuran gempa tersebut termasuk berpotensi tsunami atau tidak. Menentukan jarak dan kedalaman sumber gempa. Lalu alat (indikator) yang mereka pasang di laut merespon ketika air laut surut hingga alarm berbunyi sebelum gelombang pasang itu terjadi.

Nenek moyang kita memprediksi bencana alam dengan melihat tanda-tanda alam, seperti trader menganalisa dengan Neked Chart.

Manusia modern memprediksi dengan seperangkat tools/indikator.

Pertanyaannya, mana yang terbaik?

Dengan tanpa ego, dan tanpa merendahkan siapa pun, menurut pendapat saya, SEMUANYA BAIK, tergantung bagaimana kita memanfaatkannya.

Dari pada membandingkan keduanya, mengapa tidak kita manfaatkan keduanya?

Fakta yang mencengangkan adalah, kedua metode tersebut, sama-sama tidak 100% akurat!

Mereka yang menganalisa dengan neked chart, pernah loss.

Begitu juga yang menggunakan indikator, pernah loss juga.

Itu bukti nyata bahwa tidak ada metode analisa yang 100% akurat, baik menggunakan atau tanpa indikator.

Apa BMKG pernah salah memprediksi?

Sering!!!

Gempa bumi yang terjadi di pantai selatan sekitar tahun 2018 memicu alarm peringatan tsunami berbunyi, warga yang tinggal di daerah pantai berbondong-bondong mengungsi.

BMKG juga mengumumkan bahwa gempa tersebut berpotensi tsunami melalui televisi dan situs resminya.

Orang-orang yang melihat dari tanda-tanda alam juga mengatakan hal yang sama, mereka merasakan gempa yang cukup kuat hingga rumah mereka terasa akan roboh, kaca-kaca bergetar. Mereka juga menyaksikan air laut surut, suara ombak terdengar keras dari jarak 3 km dari daerah pantai.

Tapi tidak terjadi tsunami.

Masalah yang sebenarnya bukan pada benar atau salah analisa dari kedua metode tersebut.

Masalah yang sebenarnya adalah, "kita sering kali memaksakan analisa kita benar", dan ketika analisa kita ternyata salah, maka kita menyalahkan siapa saja kecuali diri kita sendiri.

Jika sudut pandang kita dirubah, harapan kita dirubah, maka perdebatan ini akan selesai.

Indikator adalah alat bantu, bukan alat untuk mendapatkan kepastian.

Ada trader yang berhasil profit konsisten menggunakan indikator.

Ada juga trader yang berhasil profit konsisten tanpa menggunakan indikator.

Itu menandakan keduanya bisa digunakan dan menghasilkan keuntungan yang konsisten.

Manfaatkan salah satu atau keduanya, bukan menjelek-jelekan.

Jika Anda menemukan hal penting yang belum saya tulis, silahkan ingatkan di kolom komentar, saya akan menambahkannya.

Post a Comment for "Lebih baik trading menggunakan indikator atau tanpa indikator?"